Trend Motor Retro Dunia, Old School Never Dies

Ibarat fashion yang selalu mengalami daur ulang, berdampak pula ke sektor industri lainnya. Contoh mudah tren jas pria, yang kini kembali ke gaya Bung Karno dengan gaya kerah pendek.

Pun dengan pergolakan desain dan teknologi motor yang semakin futuristik di era millennium ini, ternyata tak memupuskan gaya old school yang jaya di tahun 1960-1970. Banyak pabrikan dunia macam Ducati, Triumph, Moto Guzzi, Norton hingga Honda ikut meramaikan tren desain retro pada  produk barunya.

Ducati GT1000

Bila prinsipal di Italia menginginkan sebuah rekaman sejarah dalam sebuah kemasan produk teranyarnya, barangkali Ducati GT1000 bisa menjadi bukti otentik. Dikemas sarat retro look, GT1000 mengusung teknologi khas balap tapi bertongkrongan classic sport. Mesin Desmodromic 1.000 cc Dual Spark yang jadi andalan GT1000 merupakan kreasi terakhir pabrikan Ducati yang banyak mengadopsi teknologi dari pengalaman balap selama puluhan tahun. Bentuk mesin L-Twin yang legendaris alias Taglioni design masih dipertahankan sebagai upaya bernostalgia di era millennium.

Honda CB1000

Jepang tak ingin ketinggalan dengan ephoria brand new classic bike. Seri legendaris Honda yang selama ini dikenal berinisial CB kembali unjuk gigi di Tokyo Motor Show 2009. Bila kali ini Honda pamerkan CB1000, sangat mungkin akan diproduksi masal dalam waktu dekat. Fenomena motor lawas berteknologi modern yang sedang naik daun, bahkan dikemas seorisinal mungkin oleh pabrikan Honda ini. Jelas terlihat mesin 1.000 cc dengan pasokan injeksi yang sengaja mengandalkan air cooled yang berukuran besar. Begitulah tunggangan old school.

Moto Guzzi V7

Punya latar belakang sedikit berbeda dengan Ducati (Guzzi lahir karena kondisi perang dunia I), motor kreasi Carlo Guzzi yang kini satu atap dengan Piaggio ini turut meramaikan old school bike kelas 757 cc dengan varian V7 Clubman Racer dan Café Classic. Produk yang dirilis tahun ini memang sarat tunggangan balap zaman dulu. Bahkan hingga detail komponen dibuat sangat kental motor balap era ’70-an. Aksesori aftermarket seperti knalpot Arrow dan number plate. Sementara Café Classic dikemas lebih kalem dengan gaya Café Racer yang identik dengan tangki coak dan jok buntut tawon.

Norton Commando 961 Cafe Racer

Tak adil rasanya bila klaim motor anyar beraliran retro asal Inggris hanya dimiliki Triumph. Norton juga merilis andalan di 2010 berlabel Commando 961 Café Racer. Nama yang tak aneh lagi bagi penggemar motor Inggris klasik. Commando yang pernah berjaya pada awal ’60-an memang jadi pesaing berat Triumph. Masing-masing punya keunggulan hingga banyak speedgoers yang meramu keduanya menjadi Triton (Triumph-Norton). Teknologi sokbreker depan up-side down dan belakang dari Ohlins, piringan cakram lebar dan rem full keluaran Brembo serta teknologi mesin injeksi, membuat siapa pun pasti menoleh sembari berdecak kagum.

Triumph Thruxton SE

Merek motor yang sempat mendunia lantaran dipakai Tom Cruise di film Mission Imposible I, ternyata tak berhenti sampai disitu. Pabrikan motor legendaris asal Inggris ini seakan ingin meneruskan pamornya sebagai penghasil kuda besi kondang. Thruxton Special Edition ini misalnya. Motor gaya Café Racer dibuat apik dengan ornamen dan detil yang akurat sesuai zamannya. Contoh kedok lampu gaya old school dan kaca spion di ujung setang. Tak lupa buntut tawon dan knalpot retro bernuansa chrome makin mengentalkan zaman keemasan Triumph di era ’60-an yang mengusung mesin injeksi 865 cc. (sumber : otosport.otomotifnet.com)

About Luthfi Aziz

Masih newbie bloger, menyukai hal-hal yang menantang, hobi di bidang sains dan motorsport...

Posted on 9 Juni 2011, in Teknologi and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: