Analisa kendaraan jawara Shell-Eco Marathon (SEM) Asia 2011

Pemenang utama paling irit dari Thailand (kiri) dan pemenang kedua, (kanan) sekaligus pertama untuk bensin.

SEM Asia 2011 yang diselenggarakan di Sepang usai sudah. Upaya peserta dari negara lain untuk mengalahkan juara umum tahun lalu dari Thailand, tidak berhasil, terutama di kategori Prototipe. Pasalnya, kedua peserta dari Thailand, yaitu Luk Jao Mae Khlong Prapa dan ATE.1 (juara tahun lalu), berhasil memperoleh peringkat paling irit. Kedua tim ini, sebelum sesi terakhir saling berganti posisi.

Luk Jao Mae Khlong Prapa pemenang yang menciptakan rekor baru pada SEM Asia kedua atau 2011 di Sepang: 2.213,4 km per liter

Luk Jao Mae Khlong Prada yang menggunakan etanol, memecahkan rekor baru, 2.213 km/liter. Sedangkan ATE.1 yang menggunakan bensin, memperoleh 1.608 km/liter. Keduanya meninggalkan jauh tm BIT-eCar dari China 1.231 km/liter yang juga menggunakan mesin berbahan bakar bensin.

Mesin Honda Wave yang sudah dicacah, diplontos dan karburatornya diganti (kanan)

Menarik, mari kita analisa yang juara 2 yaitu ATE.1 karena selain menggunakan bahan bakar bensin juga foto-fotonya banyak beredar di Kompas.com. Tahun lalu ATE.1 menorehkan hasil 1,521.9 km/liter, tahun ini team ini berhasil memperoleh hasil lebih baik 1.608 km/liter.

Peserta lain memperlajari mesin yang digunakan tim ATE.1 dari Thailand disaksikan oleh Phudit Radarin (dosem pembimbing ATE.1)

Team ATE.1 ini menggunakan mesin Honda Wave 110 cc dengan persiapan selama 6 bulan. Kalau di Indonesia setara dengan Honda Absolute Revo 110 atau Honda Blade 110. Mesinnya pun sudah tidak duduk seperti semestinya tetapi berdiri. Dimodifikasi dengan dipasang 2 busi ala motor Bajaj (pentesan motor Bajaj hemat BBM :D) Mesin ini benar-benar telah “dikupas” habis baik luar maupun dalam. Sirip asli diplontosi, lantas diberi lagi lubang dangkal di permukaannya, termasuk motor starter. Bahkan, flywheel (roda gila) atau magnet kelihatan dari luar. Jalur rantai kamprat pun terbuka serta gigi sentriknya juga kelihatan.

Mesin yang digunakan time ATE.1 (kiri) dan sistem pemindah tenaga, sabuk bergerigi (kanan)Mesin yang digunakan time ATE.1 (kiri) dan sistem pemindah tenaga, sabuk bergerigi (kanan)

Team ini menggunakan karburator dan bukan sistem injeksi. Namun yang pasti, ukuran karburator sangat kecil. Perangkat itu dirancang secara khusus, mulai dari corong udara (tanpa saringan) hingga saluran isap antara karburator dan lubang katup isap.

Perubahan lain yang dilakukan, untuk mengurangi beban mesin, adalah pelumasan pada komponen di atas silinder yang dilakukan dengan sistem tetes (gravitasi). Oleh karena itu pula, tutup kepala silinder dibiarkan dibuka. Di atas kepala silinder (dicantolkan ke bodi), terdapat tabung yang meneteskan oli melalui selang langsung ke camshaft.

Bagian bawah tidak terlihat. Hanya ada roda gila yang tampak telanjang. Diduga sistem transmisi aslinya juga sudah tidak digunakan lagi. Untuk memindahkan tenaga mesin ke roda, ia menggunakan sabuk bergerigi. Bahkan, roda belakang tim ini menggunakan rem seperti pada sepeda.

Dengan modifikasi ekstrem seperti ini sudah pasti tenaga dari mesin pun akan tersunat hebat, diperkirakan tenagannya hanya tinggal setengahnya saja. Kalau tenaga stendar Honda Wave 110/Revo 110/Blade 110 sekitar 8 Hp, maka tenaganya tinggal 4-5 Hp. Di Shell-Eco Marathon (SEM) sebenarnya tidak membutuhkan tenaga yang besar karena kendaraan ini hanya akan berjalan dengan kecepatan 20 -30 km/jam. Team Indonesia sebenarnya juga banyak mengaplikasi mesin Honda Revo 110 secara bulat-bulat. Tidak ada perubahan pada blok mesin dari luar. Knalpot masih asli, juga masih menggunakan rantai untuk memindah tenaga mesin ke roda. Begitu juga dengan sistem pasokan bensin, bagian itu masih menggunakan bentuk aslinya. Jadi kalau diade siapa yang paling kencang tentu team Indonesia yang bakal menang😀.

Melihat kerja tim Thailand yang rapi ini, salah satu pembimbing Indonesia berkomentar, “Bukan dikerjakan oleh mahasiswa, melainkan oleh profesional,” ucap Dr Ir Sangriaydi Setio dari ITB, pembimbing tim Cikal Nusantara.

Sebenarnya, masih ada faktor lain yang membuat tim Thailand menang dan bukan hanya ditentukan oleh mesin. Desain bodi, mekanisme pemindah tenaga dari mesin ke roda, ban serta cara mengemudikanya ikut menghasilkan efisiensi.

Sumber : Kompas.com

About Luthfi Aziz

Masih newbie bloger, menyukai hal-hal yang menantang, hobi di bidang sains dan motorsport...

Posted on 17 Juli 2011, in Teknologi and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Salam P. Luthfi,
    Saya Witantyo, dosen pembimbing tim ITS. Saya penasaran dengan mesin tim thailand terutama adanya motor/solenoid diatas cylinder head. Juga dengan sistem karburasinya. Tolong saya dikirim foto2 yang lebih besar resolusinya untuk kebutuhan analisa.
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: