Gowess mania dengan sepeda unik…

Sepeda 3 sadel (triple)

Masih mengenai postingan pas libur lebaran kemaren. Kali ini saya melakukan hobi lama yaitu bersepeda ria alias gowess mania. Hobi bersepeda sudah lama saya tekuni, sejak SD sampai SMA hampir setiap hari saya bersepeda untuk aktivitas jarak dekat. semenjak kuliah memang hobi ini sudah jarang dilakukan, tetapi sesekali masih gowes menggunakan sepeda kampus atau pinjam sepeda punya kawan. Berhubung kawan saya adalah karyawan toko sepeda dan ada sepeda uzur yang belom laku, maka sepeda tersebut boleh kami pinjam.

Onthel jadul

Kali ini saya pakai sepeda 3 sadel atau sepeda triple. Untuk menggunakan sepeda ini memang butuh adaptasi sedikit. Terutama pada saat mulai menggowes, aba-aba dulu agar setia orang bareng gowesnya kemudian mempertahankan keseimbangan. Kalau seudah jalan lurus maka sudah enak gowesnya, kalau masih bergoyang-goyang belok-belok berarti keseimbangan belum tercapai, sekuat apapun pengadara mempertahan stang sepeda pasti masih belok-belok juga. Ada saja keusilan pengendara baik yang di tengah maupun belakang, terkadang mengakat kaki hingga satu orang aja yang menggowe tentu saja terasa berat. Satu lagi.. jangan terlalu semangat menggowes karena rantai sepeda ini masih menggunakan rantai biasa seperti sepeda tunggal, kalau terlalu semangat kekuatan gowesan tiga orang bisa mengakibatkan mudahnya rantai putus. Kerana penasaran.. saya pun mencoba untuk menaikinya sendiri saja, ketika jalan lurus memang ngak ada bedanya dengan menggowes sepeda sadel tunggal. Tetapi kendalanya ketiga mau belok atau berbalik arah, karena whealbasenya yang panjang sekitar 3 meter membuat sepeda ini tidak lincah. Harus manuver perlahan-lahan sambil digowes, kalau ngak bakal kehilangan tenaga dan ketarik bodi belakangnya yang panjang, bisa berakibat jatuh. Apalagi pas putar arah, terasa seperti membawa mobil, lebar betul haluannya.

Gowess mania..

Sepeda keduanya yang saya coba adalah sepeda onthel tua. Naik sepeda ini ngak kalah sama sepeda fixie. Nikmat ngak begitu cape. Apalagi sadelnya sudah dingkapi per. Cuman memang butuh adaptasi sedikit, ayunan per di sadel membuat seolah-olah sadel sepeda terasa goyang seperti mau copot ketika di gowes. Gowes pake kaki kanan maka sadel akan miring begitu pula sebaliknya. Untuk jalan datar memang nikmat, rodanya yang tipis tapi begitu lebar dipadu dengan gear yang kecil membuat sekali gowes maka sepeda sudah jalan jauh. Tapi memang agak berat di awal saja dan cukup menderita ketika melewati tanjakan. Rem torpedonya begitu khas memang tidak sepakem rem cakram sepeda modern jaman sekarang, dipadu dengan bunyi bel kring-king di jalan membauat kita jadi pusat perhatian orang.😀

About Luthfi Aziz

Masih newbie bloger, menyukai hal-hal yang menantang, hobi di bidang sains dan motorsport...

Posted on 21 September 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Pak Bambang Nunggang Byson

    apik apik apik gowes sampe gembrobyosss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: